Disajikan secara lengkap oleh team hjkarpet.com semoga bermanfaat

Selasa, 27 Oktober 2009

Karpet Shaggy

Sesuaikan Karpet Dengan Interior
[ liputan khusus ]

Model karpet teranyar adalah shaggy dengan ciri khas bulu-bulu keriting, panjang, lebat, dan sangat empuk.

Karpet bisa juga dipakai untuk menghadirkan suasana berbeda saat Lebaran. Dengan motif, corak, dan warna yang kaya, karpet memberi kesan hangat dan eksotis pada ruang. Untuk rumah tinggal di Indonesia umumnya orang memakai karpet tidak permanen yang dikenal dengan istilah permadani, bukan karpet gulungan berukuran besar ( broadloom ).
Permadani hanya menutup 30 – 40 persen dari luas ruang. Karpet bisa dipindah-pindah dan disesuaikan dengan gaya ruang serta perabot dan aksesorisnya. Bentuknya bisa berupa lingkaran, empat persegi panjang, oval, atau lonjong dengan ukuran 1,60 x 2,4, 1,2 x 1,7 m, 1,4 x 2 m, dan lain-lain.
Permadani berfungsi sebagai pelapis lantai sekaligus dekorasi ruangan, pengganti sofa di ruang tamu atau bahkan tempat tidur di malam hari. Biasanya karpet dipasang pada ruang tertentu untuk menghadirkan nuansa lain. Misalnya ruang tamu, kamar tidur dan ruang baca.

Serat alami dan sintetis
Bahan karpet ada yang dari serat alami seperti wol, sutera, dan bambu, ada pula yang sintetis seperti nilon, polypropelene, dan polyester. Daya tahannya relatif sama. Karpet dari serat alami biasanya dianyam dengan tangan, sedangkan serat sintetis dengan mesin.
Karpet dari serat alami lebih halus dengan warna cenderung matt , sedangkan karpet sintetis lebih glossy dengan tekstur agak kasar. Pada karpet dari serat alam biasanya ada kode spesifikasi seperti 1/10 yang berarti setiap satu incinya dianyam dengan 10 jarum.
Makin banyak jarum makin tinggi tingkat kerapatannya dan makin mahal harganya. Sampai saat ini karpet berkualitas masih diimpor dari Turki, Mesir , Iran , dan Belgia. Yang tersohor karpet dari Iran karena motifnya yang kaya dan mewah. Di Jakarta banyak dipasarkan. Dua merek di antaranya adalah Fiohome dan Goodrich.
Karpet berserat polypropelene dan akrilik lebih banyak dipakai di rumah. Harganya relatif terjangkau dengan kualitas cukup baik. Ketahanan bulu-bulu karpet berserat sintetis polypropelene cukup baik dan tidak mudah rontok. Jadi aman bagi kesehatan.
“Tingkat kehalusannya juga baik sehingga lebih terasa kelembutannya,” kata Indria Sianjaya, Manager Fiohome. Sebaliknya, bahan akrilik bulunya terkesan tebal dan lembut tapi mudah copot. Umurnya pun tidak lama, paling banter empat tahun.

Shaggy
Bagi yang menginginkan kemewahan interior yang natural, sebaiknya pilih karpet berserat alami. Tapi, karpet ini tidak disarankan untuk ruangan dengan lalu lintas tinggi karena bahannya cepat rontok. Jadi, cukup dipasang di kamar tidur, misalnya.
Tekstur bulu karpet beragam. Sebutlah cut pile (permukaan bulu-bulu terpotong alias lurus berdiri), loop pile (bulu-bulu bergulung atau ikal), dan gabungan keduanya ( cut and loop ). Yang jamak dipakai di rumah tipe cut pile , sedangkan di area komersial tipe loop pile .
Tekstur karpet teranyar adalah shaggy dengan ciri khas bulu-bulu keriting, panjang hingga mencapai 4,5 cm, dan sangat lebat sehingga sangat empuk dengan aneka motif dan warna. Cocok dipasang di ruang santai atau kama r tidur. Karpet dengan bulu-bulu rapat mampu meredam suara dengan baik.
Harga karpet bervariasi tergantung bahan dan cara pembuatan. Karpet hand made lebih mahal, apalagi yang tingkat kerapatan anyamannya tinggi dengan bulu-bulu tebal. Harga karpet berserat alami Fiohome, misalnya, bisa mencapai Rp6 jutaan untuk ukuran standar. Amalia M Roozanty 
( http://www.housing-estate.com )


1 komentar: